Kontak Saya

Diskusi ataupun PM dapat melalui email ke albert.h.gao(att)gmail dot com atau follow twitter @lim88albert

Advertisements

Kenapa Peziarah Dunia?

Sudah beberapa bulan saya mengasuh blog ini, tapi belum saya ceritakan, kenapa diberi nama “peziarahdunia”.  Tentu yang jelas nama suatu website harus mengundang perhatian.

Awalnya ini semua atas saran Andy, seorang blogger lulusan ITS, yang kepandaiannya dalam bidang IT selalu saya kagumi. Dia berkata alangkah baiknya jika coret-coretan saya dalam notes Facebook diorganisir lebih rapi. Tidak usah khawatir susah, rata-rata sudah disiapkan template yang tinggal diisi. Tentu lebih baik bila ditata ulang oleh konsultan web-programming, tapi buat langkah awal, kita pilih yang sederhana dulu.

Banyak tulisan saya berputar sekitar perjalanan hidup dan juga perjalanan wisata. Perjalanan adalah melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat diri (Wibowo,Agustinus. 2013). Dalam perjalanan kita melucuti ego, menemukan pusat  semesta dalam diri masing-masing dan dalam diri setiap orang.  Perjalanan jauh ke tempat-tempat suci sebenarnya juga untuk menyelami sanubari. Dan tidakkah Gereja juga mengajarkan, umat yang masih hidup di dunia ini adalah Gereja yang berziarah? Masih dalam perjalanan, tak peduli apakah hanya cangkruk kelon saja di rumah, ngopeni anak bojo ataupun berkelana dunia. Dari yang telah saya alami baik di Surabaya, kota kelahiran, maupun di luar kota itu adalah inspirasi menulis, baik fiksi maupun non-fiksi sebagaimana yang tersaji di hadapan pembaca saat ini. Demikianlah itu semua adalah ziarah. Karenanya saya menghindari grup tour sedapat mungkin, itu adalah ziarah instan, kurang menyelami adat kebiasaan masyarakat setempat. Kecuali bila  jalan lain (mis: nebeng/naik bus umum) dirasa terlalu sukar dilakukan atau bepergian bersama komunitas minat khusus semacam Sahabat Museum.

Tersesat pun tidak usah dirisaukan, nyatanya tidak ada jalan yang lurus tanpa persimpangan. Kejutan-kejutan yang muncul adalah bumbu perjalanan. Dari situ kita menemukan diri, menemukan passion. Jadi, salah pilih jurusan? Salah pilih suami/ istri? Siapa takut! Harus dijalani. Kalau gagal? Sukses mengikuti. Tentu saja ganti istri/ suami lebih runyam urusannya dibandingkan ganti pekerjaaan. Dan, solusi rumah tangga goncang tidak harus cerai atau pisah ranjang kan? Maka motto Nat Geo Traveller a.k.a Nat Geo People ini betul-betul mengena, “Let’s get lost!”.  Monggo kesasar!

Ihwal Menulis Puisi dan Sajak

Ingatan sumber fakta,
Mudah dipengaruhi, mudah dialihkan,
Tak bisa seutuhnya dipercaya,
Detail berubah seiring waktu,
Telisik ingatan mengungkap, lapis demi lapis tersimpan di tempat berbeda,
Tak sebanding dengan buku.

Serupa kapas, kupintal fakta jadi benang,
Terpilin 3 bagian benang lungsi.
Lihat! Satu fakta, dua fiksi.

Benang pakan untai ganda, simpul pertama fakta, seterusnya fiksi,sambung-menyambung bagaikan tasbih.
Disumba imajinasi, bewarna-warni cerah semarak,
Transkripsi selesai, bahan baku siap,

Mantra pena terucap,
Kuatur lungsi dan pakan saling berpaut,
Anyaman sastra, kata demi kata ditenun amat pelan,
Pisungsung bagi pemberi talenta

Tampilkan bumbu diksi yang tepat, hasilnya sensasi.
Selamat menikmati wahai pembaca budiman,

Cancar, April 2014

Mengenang Kota Terindah

Kota, Kota Pejuang
Engkau tidak berbenteng,bersusun tiga dilabur putih layaknya Minas Tirith
yang menahan gempuran pasukan siluman.
Tak jua ada pohon penanda keturunan raja di alun-alunnya.

Di sana lah markas tentara laut, disegani semua pengacau.
Aura keamanan memancar darinya.
Dimahkotai kekuatan lembut, menaungi penduduknya suku agama apapun.

Metropolitan kini ia dikenal.  Masih berjuang melestarikan warisan masa lalu.
Tak terhitung yang terlupakan, roboh dikikis sejarah, tak sedikit pula yang dijaga seperti anak sendiri
Seberat mengusir Belanda, datangnya dari benua biru seberang samudera.
Ia sibuk bersolek, berbenah makin nyaman.
Kota manusiawi, ke sana ia menuju,

Jalannya hiruk pikuk, hiburan tersedia, listrik terjamin.
Kaya budaya, aneka ragam sumbangsih kaum pedagang.
Gerbangnya menyambut penjajah dan penguasa, melintasi masa.

Melongok keluar jendela pesawat, terlihat gerbang modern, bandara Juanda.
Landas pacu beberapa meter lagi.
Ke tanah rantau aku menuju.

Setetes air mata jadi sesaji.
Persembahan untuk kota yang hidup terus dalam kenangan.
Kuucap syukur telah dibesarkan dalam batas wilayahnya.

Sedati, April 2014

 

Rendezvous Tempat Terpencil

Bolehlah kubercerita tentangmu. Dengan menyamarkan tempat dan identitas. Kiasan dan konteks sandinya. Seperti sajak “Kakak Beradik” tanpa kata “xiong-di”. Jabatan dan julukan bertebaran dalam Genji. Persona et Terra Annonimata.
—————————————
Rendezvous Pertama

Semuanya ini tak kan terjadi bila tidak diawali suatu petaka di masa Natal lalu. Seorang pencopet mengambil dompet, dan hilanglah KTP, SIM, kartu ATM,kartu pelajar dan surat-surat lainnya. Beberapa hanya bisa diurus di kota asal.
Kehilangan kartu pelajar itu paling sentimental. Kartu yang telah memberi tiket diskon. Kartu yang membuat banyak orang tertunduk takzim penuh hormat begitu tahu di mana aku menimba ilmu. Kartu yang mengingatkan untuk menjaga nama baik almamater. Dan kartu yang tidak bisa dibuat kembali karena hilang di saat sudah lulus.

Aku sempat berpikir tidak bijaksana, menyalahkan Yang Kuasa, kenapa copet justru datang saat kutaruh uang berjumlah jutaan dalam 1 dompet? Padahal biasanya aku memisahkan sebagian uang di tempat tersendiri. Sampai sekarang saya merasa ogah dan tidak ikhlas menaruh sebagian dari kelimpahan rejeki di dalam  kotak kolekte gereja. Tentu saja itu salahku yang tidak waspada dan kurang hati-hati. Dan salah copet brengsek itu.

Maka terbanglah aku ke Jawa, menyempatkan mampir pulau tempatmu bertugas. Dalam badai harus melihat garis perak bukan? Andai tak ada copet, aku mungkin masih masih menjadi pribadi acuh tak acuh, dingin tak berkobar. Diam-diam ku tak menyesal kehabisan jatah cuti sehingga tak bisa berziarah ke Larantuka. Tahun depan toh masih ada kesempatan untuk hanyut di tengah lautan Semana Santa.

Awan kelabu menyelimuti pulau tempat mengabdi, setahun bagai pertapa.
Angin hujan bertiup, berlomba adu kekuatan.
Beberapa kali pesawat gagal mendarat.
Baling-baling tak kuasa menantang.
Musim sepi tamu sepanjang Januari.

Tak dinyana datang seseorang, mengirim pesan ke kotak surat.
Terbaca dalam peta, tiada orang lain seperti kita dalam radius bemil-mil.
Seorang pribadi Dominan-Interaktif.

Kita datang ke pulau yang jauh-jauh
Tenggara Timur serba Tak Tentu, sinyal galau GSM santapan rutin.
Semoga Tuhan Nanti Tolong,

Laut berombak bukan halangan,
Tanah terluar memanggil,
Amanah tugas kontrak,
Satria ujung tombak layanan kesehatan sekunder.
Hemat uang tiket, tak kunjung mudik.
Sekejap saja tinggalkan sanak saudara.

Rendezvous diatur di sebuah toko,
Di tengah langit kelam guntur menyambar.
Serigala mempunyai sarang,  tikus berlindung di liang.
Ouuuww, ouww, ouwww, wauuu, wauu,wauu,
Bercakap-cakap di kediamannya.

Mata jeli pemburu gampang melihat dan langsung membidik senapan.
Tapi pejalan yang bernaung di homestay tanpa papan nama,
akan susah diketemukan oleh perantau sepertimu,
 Baru sebulan menata hidup di tempat terpencil ini.

Pantainya alami, bersih sampah.
Jeruk dan pop corn tradisional menyambut.
Ini sirih pinang, mari berteman.

Hapuslah air mata di wajah,
Dengan indahnya pulau ini dan keramahtamahan kampung adat,
Terlebih sosokmu di hadapanku
Kurasa tak lagi sendiri.

Anggitane panggung, latar belakang ditata,
Badai menggelegak, atap seng berderit. Prahara mengamuk di ambang pintu.
Kau sudi mampir tidur semalam, tapi kantuk menghilang,

Teraba iktus kordismu pada palpasi, membuat tenteram, terbuai mimpi satu malam untuk persaudaraan kekal .
Bahu bersisi-sisian,
Tangan saling menggenggam,Cium dan cumbu-cumbuan menandai awal perjumpaan.
Kita terlelap saat nyaris berganti tanggal.

Subuh, pagi-pagi buta kau pamit, bayanganmu tertinggal,
Masih tercium sisa wangi sabun menempel di bantal.
Aroma yang telah terasa akrab semalam.
Andai saja bantal itu memang sungguh dirimu.
Temani aku lebih lama.

********
Rendezvous ke-2

Kita tidak sampai berbuat apa-apa, katamu.
Ya, rekan sejawat. Bila batasnya memang tusuk-menusuk, bukan gesek-menggesek.
“Aku merasa bersalah, sama kamu, semalam kan kamu sempat ga mau meneruskan, tapi aku tetap lanjut.”
Ya,saudara. Tanganmu menahan usaha supaya berhenti. Awalnya ku mau jangan sampai ke sana. Tapi sudahlah, godaan itu terlalu besar dan aku santai saja. Tak usah dipikirkan.
“Yang kedua aku merasa bersalah pada seseorang yang bersedia menungu di tempat asal. Bayangkan, menunggu 1 tahun. Ya, aku sih tidak tahu, dia ngapain saja di sana selama aku pergi.”
Kau tolak tawaran mampir lagi untuk kedua kali. “Nanti tidak pergi tidur, tapi malah “kerja””, katamu setengah tertawa.
Malam itu sepi menemani,
Tak ada yang mengajak ngobrol hingga kantuk menggelayut. Hanya bayangmu masih di situ seakan bersenandung.

“Hey Brother, do you still believe in one another?
What if I’m far from home. Oh brother I will hear you call.
Oh if the sky comes falling down for you, There ‘s nothing in this world I wouldn’t do”.(Dan Tyminski)

Rendezvous ke-3
Sori baru balas.  Baru bangun jam 7 malam, ketiduran, pusing kepalaku. Beberapa hari tidak enak badan, dilanda batuk pilek. Ada kekuatiran TB paru, esok perlu cek dahak.
Maaf, jangan ke kosku yang tidak karuan. Aku masih malas banget bersih-bersih. Jauh dari rapi. Tidak usah repot-repot bawa obat simptomatik. Gak apa-apa kok.
Biar saja kujemput pakai motor. Kasihan jalan kejauhan. Walau bagimu yang bertipe petualang, jalan sekian kilometer juga bukan masalah besar. Tunggulah 5 menit ‘ku kan di sana.
_______________________________________________________________

Kau bawa satu bungkusan hitam, siap di depan pagar

“Ini limau se-kresek. Tonik untuk kesehatan, dicampur air panas, minum hangat-hangat.”
Aroma limau menyeruak bersama uap. Segarkan jam-jam pertemuan kita. Benar kan kubawakan limau, tanda mata tua-tua kampung adat. Warung ini tidak menulis  limau dalam daftar menu.
Hidangan ikan bakar disajikan, menanti disantap di meja. Makanan berat sehari sekali saja . Sarapan dan makan siang diganti suplemen cair.

Seharian aku rindukan duduk berdua, bertukar pikiran denganmu. Yang kenyang pengalaman organisasi, jadi ketua panitia A sampai Z, berpuncak jadi ketua senat, penggerak organisasi mahasiswa.  Terlatih bersikap tegas. Selalu gatal mengatur apa yang kurang pas.
Kau ceritakan keberanian menghadapai pembicara yang terjangkit waham kebesaran dalam suatu pelatihan. Suasana pembicaraan sudah tidak kondusif ketika sang pembicara cenderung bermegah-megah dengan almamaternya. Saat itu juga kau putuskan mending keluar dan menemui pemimpin pelatihan. Seisi kelas berdiri, tepuk tangan meriah “standing ovation” memuji gayamu.
Sedangkan aku, bermodal hasrat agar semua bersih dan rapi, hanya mengecap bendahara kerohanian dan anggota beberapa seksi panitia. Api semangat berorganisasi telah lama padam setelah gagal menjabat ketua kelas masa SMA. Bila ada tembok menghalangi jalan, kupilih mengitarinya daripada menabrak sekuat tenaga.
Yang terlupakan ialah memimpin memang perlu pengalaman, dan tiada pengalaman tanpa kegagalan.
Baru kusadari, pengalaman berorganisasi menempa seseorang jadi tangguh dalam manajemen. Beda dengan mahasiswa kupu-kupu. Kukagumi tiap orang yang seperti ini dan kurasa rendah diri di hadapanmu.

Tiada kata terlambat untuk mulai lagi. Bangkitlah dan nyalakan kembali kesadaran berorganisasi. Semangat tidak menyerah pada kemunafikan. Waktunya panas membara, tinggalkan suam-suam kuku. Dan saya akan memimpin sekali lagi, berinovasi di tengah kemandegan. Monoton lewat sudah, jadilah garam dan terang dunia.

Terima kasih saudara, 3 kali rendezvous penyulut inspirasi.

Akhir Rendezvous, Perpisahan

Lama menunggu di bandara. Bandara?? Ini lebih cocok disebut lapangan terbang. Sapi berseliweran, diusir dini hari sebelum datang Fokker, peretas isolasi dari Negeri Ollanda.
Listrik padam nyaris tiap hari, kadang sejam, kadang 2 jam. AC mati. Mesin X-Ray teronggok membisu tak ubahnya hiasan. Konter cek-in pun manual, tanpa no.kursi tercetak. Onboard, duduk bebas suka-suka.
Kulayangkan pandang keluar, nampak petugas berseliweran di balik jendela menara ATC. Stress kah mereka bekerja tanpa listrik? Ataukah malah santai menangani paling banyak 2 penerbangan PP per hari?
Lapangan parkir masih kosong, boarding ditunda. Wajah-wajah penumpang gelisah basah oleh keringat, sesekali kipas-kipas.  Palpitasi campur bosan. Tak-tik-tik, tak-tik-tuk, tenggelam pada sebentuk layar di tangan. Ketik kabar untuk kerabat dan kenalan, mengisi waktu yang terbuang. Tak perlu hiraukan tetangga kiri-kanan.
Satu jam kemudian, barulah sayup-sayup terdengar deru baling-baling mendekat.
“Safe flight ya”
“Hey, brother. Thanks. Take care and see you”
“Sampai ketemu lagi”
————————————————————————————————
Menjaga Api Tetap Menyala

Kita kembali ke pos masing-masing.
Menjaga api tetap menyala dan tidak tawar hati terbukti lebih sulit daripada menyalakannya. Halangan menerpa, persoalan menghadang, tampak besar mengerikan. Liburan baru usai, tapi bahuku letih lesu berbeban berat, ditindih kondisi jauh dari ideal. Semua ide-ide hebat rasanya macet, tak tahu ke mana arahnya. Andaikan kau di sisiku, dan rahasia ini boleh kusampaikan, ringanlah bebanku.

Bolehlah kubercerita,
Dituduh merusak alat kesehatan sama sekali bukan hal menyenangkan. Sakit hati ini ketika kesehatan pasien kuutamakan dan kesehatan diri sendiri nomor dua. Namun ketika alat mendadak rusak, semua jari mengarah padaku. Menuding tanpa ampun. Dari semula alat itu memang cacat. Aku berhati-hati memakainya sesuai ilmu yang telah didapat semasa kuliah dan pengalaman bekerja. Kebetulan saja tidak berfungsi sama sekali ketika aku menggunakannya. Aneh sekali argumen dewan direksi, aku disuruh bertanggung jawab.

Kau tahu, kita semua mengorbankan waktu tidur dan kedekatan dengan keluarga demi kepentingan umum yang lebih besar. Dan inikah upahnya?
Sudah berbulan-bulan nyeri ulu hati ini hilang. Kini ia kembali, menggerogoti jiwa dan raga. Welcome back gastritis and psychosomatic disorder! Diagnosis dari seorang ahli semasa SMA ketika penyakit ini pertama kali kambuh.

Hampir saja ku berkata,”Persetan sudah akreditasi, promosi Perilaku  Hidup Bersih Sehat, maupun Asuransi Kesehatan Berbasis Sampah.”

Butuh pertemuan dengan kepala Yayasan dan rapat klarifikas dengan direksi untuk menyatakan ketidakbersalahan. Aku tak pernah tahu siapa yang pertama melempar isu tuduhan tidak-tidak itu. Dan yang menyakitkan, tidak ada permohonon maaf. Bahkan sampai kucing tumbuh tanduk pun sia-sia mengharapkan.  Siapakah aku ini? Orang baru,yunior dalam struktur kepengurusan.
Bagimu mungkin biasa, dengan cara persuasif kalau perlu ofensif demi menggapai tujuan. Tapi, sungguh anak kemarin sore ini butuh dukungan moral dari yang lebih berpengalaman. Butuh tambahan kekuatan.

Sejawat, dapatkah aku bercakap padamu? Atau setidaknya pada bayangmu? Yang muncul setiap kali irisan limau bercampur air panas. Membangkitkan kenangan akan rendezvous seminggu silam. Terpisah ombak ganas samudera selatan, saat ini aku jauh darimu,  berjuang agar api inspirasi yang kau nyalakan tak padam sia-sia.

Cancar, Maret 2014

Meditasi Kristiani

Sebenarnya secara teknis, tidak ada yang istimewa dalam meditasi ini.
Poin pentingnya adalah:

1.Memperhatikan irama nafas dan mengendalikan pikiran yang berkelana ke mana-mana seperti anak kecil. Selain itu,

2. Sadarilah hal-hal yang terjadi di sekeliling kita. Hal-hal semacam kicauan burung dan “background noise” yang selama ini terlewatkan.

Saya hanya menyisipkan doa puja Yesus di dalamnya, yaitu “Tuhan Yesus Kristus Putra Allah (direnungkan saat menarik nafas), dilanjutkan “Kasihanilah orang berdosa ini” saat menghembuskan nafas.

Meditasi ini diajarkan oleh biarawan dan suster-suster Carmelite beberapa tahun lalu saat saya mengikuti retreat rohani di Tumpang, Malang. Yang mereka ajarkan hanya merenungkan kata  “Yesus”  saja, tetapi saya mengambil rumusan Tradisi Timur yang lebih panjang.

Berdasarkan artikel yang ditulis dalam majalah TIME, ada beberapa manfaat yang dapat dipetik antara lain: mengurangi nyeri dan melatih konsentrasi. Tapi, tentu sebenarnya tujuan akhirnya bukan itu. Menurut para biarawan dan biarawati Carmelite, tidak perlulah merumuskan target-target tertentu karena tujuan utamanya adalah mendekatkan diri dengan sang Pencipta. Beberapa manfaat di atas hanya bonus saja.

Beginilah step-by-step bermeditasi dikutip dari TIME edisi 3 Februari, 2014:

Image

Tantangan utamanya selain pikiran melayang ke mana-mana, tentu saja mengantuk. Saran saya pribadi adalah terima sajalah rasa kantuk itu sambil berusaha untuk tetap terjaga. Dan sebaiknya  tidak bermeditasi saat mau tidur ataupun jam tidur siang. Saya tidak memungkiri bahwa bagi pasien Gangguan Cemas dengan komplikasi insomnia, meditasi mungkin sama ampuhnya dengan Alprazolam, Xanax ataupun Benzodiazepine lainnya.

Cancar Flores, Maret 2014

Yogyakarta dan sekitarnya, Lebih dari Sekadar Kraton dan Prambanan

ImageKiri: Patung Sang Budha dalam Candi Mendut

Lho,ayo ga opo-opo? “Sopo maneh sing isa diajak”.. Ga ono,iki wisata minat khusus” Ok, kita berangkat “

Ala backpacking,saya dan Bing, seorang teman yang saya kenal sejak SMA kelas 1, berangkat ke Wonosari dan Yogya yang tersohor dengan Kalisuci,wisata lintas sungai bawah tanah. Seperti Julia & Robin Esrock dalam Word Travels atau Wilson & Justin dalam Departures, kami gemar menjelajah Nusantara dan MancaNegara. Tempat bertemu disepakati hari Rabu malam tanggal 16 Mei 2012 di Yogya.Saya berangkat dari Trenggalek. Bing berangkat dari Surabaya.Dia malah sampai duluan hari Selasa karena tiket hari Rabu habis.Ini harpitnas “Yesus Naik ke Surga” dan semua orang bergegas menuju tujuan wisata.Tempat-tempat seperti Bali dan Yogya segera dipadati turis lokal maupun impor. Ketika saya sampai di Yogya,jarum jam telah menunjuk pukul 20:30
Kami menumpang di rumah kerabat Bing. Sesuai adat sopan santun, saya membawakan buah tangan dari Trenggalek. Saya masih malu-malu campur sungkan, sebelum keramah-tamahan nyonya rumah akhirnya mencairkan suasana.
Rumahnya terletak di jalan menuju Kaliurang, dekat dengan seminari. Jadi,saya tak perlu bingung cari kendaraan untuk misa pagi besok.

Magelang, tak sekadar Merapi dan Borobudur.

Keesokan harinya setelah misa pagi perayaan Kenaikan Yesus, saya menelpon operator cave tubing dan caving di Wonosari. Karena tidak reservasi sebelumnya, trip hari itu penuh kecuali untuk caving. Kami berunding,baiknya besok aja sekalian disikat dua-duanya. “Eh,Bing kon nang Yogya biyen tau endhi ae?” “Byuh,biyen mrene sek cilik.Gak eling opo2. Borobudur yo gak tau kok” “Yo wis,dina iki mlaku-mlaku daerah Borobudur ae yo?”

Kompleks Candi Pawon,Mendut, Borobudur

Kami diantar ke terminal Jombor, tempat mencegat bus ke Borobudur. Bus melewati Sleman-Muntilan sebelum sampai di terminal Borobudur. Dari situ naik becak untuk berkeliling ke Pawon-Mendut dan tentu Borobudur sendiri. Tiga serangkai ini sering dikaitkan dengan sabuk Orion seperti halnya bangunan-bangunan kuno lainnya di penjuru bumi.

Saya sendiri berulangkali ke Borobudur dan lebih tertarik berkunjung ke Candi Sambisari, Sleman. Pada hari itu juga berkat tukang becak dan Google Maps, barulah saya tahu Sambisari terletak di dekat Prambanan, lebih dekat ke Jalan Sala-Yogya daripada ke kota Sleman sendiri.
Jam 9 pagi sudah dalam area  Borobudur, dalam keheningan berusaha memahami mural di dinding candi tanpa guide. Pengunjung cenderung memadati tangga bergegas menuju puncak, meninggalkan kami berkontemplasi di jalan melingkari badan candi. Saat itu cuaca cerah, terik mentari membakar tengkuk yang belum dilumuri sunblock-cream. Terlihat Merapi di kejauhan diselimuti awan tebal, hanya samar-samar. Sayup-sayup di halaman selatan tampak penari topeng ireng ditanggap, sebagai hidangan penutup setelah main-course Borobur. Bunyinya crek-crek,crek-crek dari klintingan di kaki
masing-masing penari.
Saat naik ke puncak, di sinilah kami mendapat kesulitan untuk berpose di tengah kerumunan orang. Tapi bukan backpacker sejati namanya kalau tidak sabar dan penuh tekad. Jam 11 setelah puas bernarsis ria, mengisi Memory Card, kami meninggalkan Borobudur dan pindah ke Mendut
Pheww! Untung datang pagian. Saat keluar terlihat antrian mengular di loket karcis.
Borobudur ke Mendut tidak jauh, hanya 2 km saja. Tukang becak yang mengantar berkata di sini turis lebih jarang, padahal justru di dalamnya ada patung Budha yang sepengetahuannya terbesar dari yang ada di semua candi Jawa. Impresif. Umat Budha sukses “menghidupkan” kembali candi ini.  Biara baru dibangun di sisinya dan di dalamnya ada altar dengan lilin yang masih menyala dan dupa yang masih berasap.
Perjalanan dilanjutkan ke Pawon, candi tempat perabuan jenasah, yang tanpa arca. Di sekelilingnya dipahatkan hewan mitologi, entah apa namanya. Kecil tapi terawat, walau di tengah kepungan rumah penduduk. Dari Pawon, balik ke terminal, naik bus lagi ke arah Muntilan untuk satu tujuan, tape ketan.

Muntilan
Sebenarnya kota ini juga menyimpan peninggalan sejarah, museum misi Gereja Katholik, tapi kami melewatkannya. Bus ini ngetem di terminal amit-amit, hampir 15 menit di bawah terik mentari. Kami memutuskan turun. Seingat saya toko tape tidak jauh, tinggal jalan kaki saja. Ternyata ingatan kunjungan saya 5 tahun lalu sudah memudar sehingga kami berjalan hampir 2 km sambil memanggul tas ransel di punggung dan beberapa kali menanyakan arah.  Peluh sudah membasahi kaos, perut mulai lapar, hingga akhirnya, “Lho iku opo ndhek seberang dalan, nggletekE sek adoh eh.. Sorry yo, Bing..hehe.  Tahu gitu, naik becak ae”.  Sebenarnya bila tidak letih lesu dan berbeban berat, kota ini nyaman dijelajahi dengan jalan kaki, bangunannya antik-antik, seperti museum hidup dari jaman kolonial.
Dari Muntilan kami menuju terminal Giwangan yang menjadi tempat pemberangkatan menuju Wonosari.
Wonosari
Setelah perjalanan 1.5 jam dengan bus ongkep dan dipepet koyok iwak pindang. Sampailah kami di kota kabupaten Gunung Kidul, yang lebih terkenal karena berita gagal panen daripada pesona wisatanya.
Ditipu ojek
Kami hanya menyepakati harga 10 ribu untuk mengantar dari terminal ke hotel. Karena tidak melakukan reservasi terlebih dahulu, kamar ber-AC penuh. Demikian pula banyak hotel yang lain, atau kalaupun kosong, pengap dan kotor. Kami sengaja go-show supaya bisa lihat langsung, tanpa memperhitungkan bahwa di kota kecil pun, hotel bisa penuh saat Harpitnas. Pada saat kami meminta ojek untuk tambahan mengantar keliling kota, hanya dijawab, “Ya, terserah lah”. Geram sekali kami sewaktu diminta tambahan 15 ribu untuk masing-masing orang (Total 25 ribu masing-masing orang). Habis 50 ribu hanya untuk keliling kota yang luasnya tidak ada sepersepuluhnya Surabaya itu,  dalam tempo tidak ada setengah jam.  Akhirnya kami menginap di Hotel Joglo, hanya sisa 1 kamar, non-AC tapi bersih dan harus check out sebelum jam 9.

Keputusan Sewa Mobil, Cukup Sudah untuk Angkutan Umum
Malam itu, sehabis menyegarkan diri dan menaikkan GDA (Gula Darah Acak), kami berhitung. Ditotal-total untuk biaya transportasi, bukannya irit-irit malah orot-orot, hampir 300 ribu. Sekali naik bus atau becak, habis 10-20ribu, belum lagi kalau ketemu tukang ojek brengsek. Dan kualitas bus, ya gitu deh..non AC, ngetem.  Padahal dengan 450 ribu, kami bisa menyewa mobil ber-AC, plus sopir yang sudah tahu jalan. Cukuplah kami keleleran 1 hari saja, besok pakai cara yang nyaman dan aman saja.

Goa-Goa dan Pantai

Jam 7 kami berangkat  ke Gua Kalisuci dan Jomblang yang hanya berjarak 15 menit dari pusat kota Wonosari. Semalam hujan deras seperti “anjing dan kucing”. Berdasarkan cerita yang ditulis para pejalan, Kalisuci ditutup selama musim hujan. Dalam perjalanan ini, kami tidak berjodoh. Obyek wisata ini ditutup. Dari atas tebing, kami menatap hampa sungai bawah tanah berarus kencang, lenyap ke dalam gelap gua dengan suara bergemuruh. Di bulan Mei, cuaca yang mulai kering bisa saja tiba-tiba diselingi hujan lebat. Dalam perjalanan berikutnya 3 bulan kemudian, pemandu menunjukkan batas air selama hujan dibandingkan saat musim kering. Akan saya ceritakan dalam posting berikutnya
Saya bertanya pada orang setempat ke mana arah gua Jomblang. Sudah tidak jauh, 1-2 km lagi, tapi jalannyatidak beraspal. Di sana pangling, ada bangunan bagus di tengah pedesaan. Kami berunding apa sebaiknya jalan kaki saja. Bing tidak sepakat, tidak perlu dibelani, sudah bayar mahal, jalannya rusak, malas juga kalau harus jalan. Benar juga, naik mobil, datang kinclong, pulang bletok’an, belum lagi kalau ada yang rusak. Mobil ini berjenis city car, tidak bisa dibandingkan dengan 4WD.
Image Foto: Tebing Menganga Sekitar Wonosari

Dari Kalisuci, perjalanan berlanjut ke Pantai Indrayanti, 1,5 jam ke arah selatan. Pantai ini cukup ramai saat tanggal merah. Tapi bisa dikatakan jauh lebih sepi dibandingkan Kuta, Bali dan jauh lebih sepi. Saya segera melepas kaos dan mandi di tengah deburan ombak. Sementara Bing hanya merendam kaki lalu duduk-duduk di bawah payung, menikmati cuaca cerah. Paling tidak ada 2 jam kami bersantai di sana.

Image  Pantai Indrayanti, Belum Penuh Sesak dan Masih Bersih

Dari sana ke Pantai Kukup tidak jauh, tinggal menyusuri pantai saja. Dengan beberapa kali detour menghindari jalan yang diblok dan diminta bayar karcis, tidak peduli apakah memang ingin ke pantai itu atau hanya numpang lewat saja.
Pantai Kukup tidak kalah indahnya, pasir putih diselingi batu karang besar-besar. Inilah Tanah Lot-nya Wonosari. Justru ini lebih indah daripada Pantai Baron yang lebih dahulu terkenal. Lagi-lagi 2 orang penggila pantai ini, lupa daratan dan lupa waktu.  Setelah puas lalu makan siang, jam sudah menunjuk jam 3 lebih.
Arah selanjutnya meninggalkan garis pantai, kembali ke Yogyakarta. Kami menyempatkan mampir ke Gua Maria Titis.  Inilah ziarah penutup hari. DImulai dengan menghayari panel-panel yang menggambarkan 14 perhentian jalan salib dari kaki bukit yang berujung dengan gua yang sudah dipermak menjadi tempat beribadah. Di dalamnya didirikan icon, patung Bunda Maria. Air menetes di sekitar para peziarah dari endapan kalsium karbonat di atap gua, menambah suasana syahdu. Sampai di Yogya , matahari sudah terbenam, dan kembali di rumah kerabat Bing membawa banyak cerita.

Image

Foto: Stasi Pertama

Image

Foto: Syaduhnya Tritis di Tengah Kerumunan Peziarah

 Seputar Sleman, lebih dari Sekadar Prambanan
Candi Ijo, Candi, Sewu dan masih banyak lagi peninggalan jaman klasik Hindu Budha di area ini. Sebagian besar hanya tersisa pondasi saja.
Kami bermotor menembus panas terik jalanan Yogya, sekitar 45 menit, hanya berbekal helm standar SNI dan jaket tipis.  Candi Sambisari dan Candi Sewu dekat saja, hanya 5 menit ke utara Prambanan.
Jalan masuknya belok kiri di perempatan setelah Prambanan ke arah Sala. Kami hanya berjumpa total  10  turis lainnya di dua candi itu. Kontras sekali dengan suasana berdesakan di Borobudur dan Prambanan. Menambah hening dan sakralnya tempat suci itu. Ini baru  plesir, benar-benar ayem dan tentrem. Satu dua kali wisatawan melintas, jalan sehat di depan area candi.
Image

Foto: Candi Sewu, Masih Sepi, Bebas Narsis di Sana-Sini

Image

Foto: Melongok Hasil Jepret di Smartphone

Di jalan keluar sisi kiri menuju Jalan Besar Sala-Yogya, ada warung dengan hidangan swike, rasanya begitu sedap di tengah panas tak berawan. Kami lupa  apa nama warungnya
Siang itu juga setelah makan, saya pulang kembali keTrenggalek, naik bus dari depan Prambanan, dengan transit di Brak’an, Kertosono. Saya diundang dalam pernikahan seorang sahabat malam itu, dan saya telah berjanji untuk menyempatkan hadir. Bing masih belum selesai berlibur. Selamat melanjutkan petualangan di Yogya, kawan. Dan bila engkau kelak membaca tulisan ini, marilah kita ketawa-ketiwi mengingat usaha dan kompromi yang dulu kita lakukan.

Logistik
Hotel Wisma Joglo: Rp 150 ribu non AC, ada sarapan roti bakar, WiFI gratis. Bapak Agus Sugeng Wibowo 081328745089/ 0817467204. Jl Sumarwi, Gg. Mayang, Gadungsari, RT06/ RW 12, Wonosari, GunungKidul. Telp (0274) 391222.

Cave tubing KaliSuci: 75 ribu per orang.  Bisa langsung  datang di tempat,  asalkan tidak ramai dan kondisi alam memungkinkan.

Explorasi Gua Jomblang: 350 ribu per orang. Caution! Akses lewat jalan offroad
Transportasi ke Yogya: Bus atau kereta api. Untuk bus Eka, turun di terminal Jombor. Mira, dan Grup Sumber turun di terminal  Giwangan.
Transportasi ke Muntilan, Magelang, Borobudur: MiniBus non AC dari Terminal Jombor. Harga 10-20 ribu tergantung tujuan.